Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

23 Juni 2013

Hari ini, 23 Juni 2013….
Selamat Ulang Tahun Adikku Dhini Ayu Puspita Sari, semoga sehat panjang mur dan menjadi anak yang baik.
Terimakasih atas limpahan Allah SWT, terimakasih kepada keluarga serta teman-teman seperjuangan di kampuas Universitas Diponegoro..
Banyak hal yang sudah tidak aku ceritakan disini, banyak kejadian yang penuh cerita yang semestinya menjadi pelajaran kita bersama..
Tidak terasa kini aku menginjak semester empat dan kini semuanya nyaris berakhir. Besok adalah ujian akhir semester di semester empat yang pertama. Bagi para mahasiswa ang tidak mengalama sesuatu mungkin ini merupakan saat-saat yang ditunggu-tunggu. Tapi bagiku, saat-saat ini merupakan sesuatu yang menakutkan. Bukan karena uas melainkan karena aku harus pulang kembali kerumah dimana disana penuh dengan kebisingan

0 komentar

Suksesi Kepemimpinan Pemuda Indonesia


Suksesi Kepemimpinan Pemuda Indonesia
(Di dalam dirimu terdapat sumber energi yang lebih besar daripada yang pernah digunakan, lebih banyak bakat daripada yang pernah digali, lebih banyak kemampuan daripada yang pernah diuji, lebih banyak untuk diberikan daripada yang pernah kau dapatkan.)
                        --John Gardner, Ex Menteri Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan AS

PENDAHULUAN
Kepemimpinan, “Realita dan Harapan
Membicarakan topik kepemimpinan merupakan sebuah hal yang selalu menarik dan tidak habis diperbincangkan. Terlebih untuk memikirkan tentang bagaimana kepemimpinan di Indonesia, tentang sosok kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa bangsa Indonesia ke depan, menuntun masyarakat ke arah yang lebih baik dan menciptakan perubahan secara kualitatif maupun kuantitatif. Sebuah masa depan bangsa barangkali juga diwarnai dengan masa lalu, tetapi yang lebih penting adalah apa yang saat ini kita pikirkan dan apa yang akan kita lakukan dari sekarang ke depan.
Indonesia saat ini agaknya mengalami krisis kepemimpinan, bak menahan dahaga di padang pasir, bangsa Indonesia seperti kehilangan sosok seorang pemimpin yang mampu menciptakan arah kemana kita bergerak dan apa yang harus kita lakukan di masa yang akan datang. Sementara kita tahu bahwa dalam tataran sebuah organisasi saja yang menentukan keberhasilannya adalah seorang pemimpin. Dalam konteks kenegaraan, seorang pemimpin dan gaya kepemimpinannya merupakan penentu nasib bangsa dan negara.
Kepemimpinan di Indonesia merupakan sebuah hal yang tak dapat dipisahkan dengan dinamika sosial masyarakat Indonesia beserta budayanya yang majemuk. Diperlukan sosok kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan antara kepentingan dan kewajiban. Bagaimanapun juga, seorang pemimpin dituntut untuk menyelaraskan antara tugas dan kepentingan negara. Pemimpin tidak boleh menempatkan kepentingan pribadi diatas kepentingan segala-galanya. Kita perlu memahami bagaimana menjalankan amanah sebagai seorang pemimpin dan menyelaraskannya dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi, baik sisi sosial, budaya, ekonomi, politik, dan masyarakat.

0 komentar

“Antara Harapan dan Realita”

Akankah  Indonesia  menjadi  negara  maju?
Ada secercah harapan ketika melihat statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 dimana pada tahun tersebut tingkat perekonomian Indonesia tumbuh dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,5 persen. Angka ini meningkat sebanyak 2 persen dari tahun 2010 dimana pada waktu itu tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4 persen. 
Hal ini cukup memberikan harapan bagi bangsa Indonesia guna mewujudkan cita-cita negara untuk menjadi salah satu bagian dari negara maju di dunia.

Berbagai pemberitaan mencuat hingga menimbulkan sebuah pertanyaan, akankah Indonesia kelak bisa berubah dari negara berkembang menjadi negara maju?
Banyak faktor yang melandasi sebuah negara untuk dikatakan sebagai negara yang maju. Selain tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan perkapita yang tinggi, sebuah indikator negara maju juga dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan penduduk, penggunaan teknologi dan tingkat pengangguran yang rendah. Indonesia sendiri secara kuantitatif sudah hampir mencapai kriteria hanya saja, secara kualitatif nampaknya Indonesia masih jauh dari harapan. Banyaknya penduduk miskin dan tingginya angka penganguran telah membawa rakyat Indonesia pada  sebuah kesimpulan yang paradoks.

Sejalan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia saat ini digadang-gadang dalam kurun waktu lima tahun ke depan akan mampu menjadi kekuatan baru ekonomi global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) No. 13/02/Th. XV, 6 Februari 2012, Selama tahun 2011, semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang mencapai 10,7 persen, diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 9,2 persen, Sektor Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan 6,8 persen, Sektor Jasa-Jasa dan Sektor Konstruksi masing-masing 6,7 persen, Sektor Industri Pengolahan 6,2 persen, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih 4,8 persen, Sektor Pertanian 3,0 persen, dan Sektor Pertambangan dan Penggalian 1,4 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2011 mencapai 6,9 persen yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 6,5 persen.

Saat ini berbagai upaya telah dilakukan guna menjaga momen pertumbuhan agar tetap meningkat. Diantaranya adalah melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang saat ini telah dipimpin oleh Dahlan Iskan. Selama masa kepemimpinannya, sektor BUMN mengalami banyak perubahan. Berbagai kebijakan telah diterapkan guna mewujudkan kemandirian bangsa.

Menurut beliau, ada beberapa titik permasalahan yang perlu diatasi untuk menjadi negara maju. Pertama; masalah kemiskinan, kedua; masalah pangan dan pendidikan, dan yang ketiga; masalah birokrasi. Untuk menjadi sebuah negara maju, maka dibutuhkan sebuah birokrasi yang kuat dan siap dari permerintah.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Indonesia perlu bercermin pada negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Amerika dan Cina yang sejauh ini telah berhasil menjadi leader di pasar global. Kemampuan dan kemajuan teknologi dari ketiga negara tersebut perlu dipertimbangkan.

0 komentar

Jurnalisme di Tengah Euforia Sosial Media

Kemajuan teknologi yang melanda seluruh dunia telah mengakibatkan banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan. Melalui sosial media misalnya, perkembangan teknologi di bidang IT ini telah banyak memberikan pengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat khususnya pada bidang informasi dan komunikasi. 

Internet atau Interconected Networking , sebagai salah satu produk kemajuan teknologi masa kini memiliki peran sentral dalam aspek kehidupan. Internet tak lagi dianggap sesuatu yang awam. Mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa banyak bergantung pada akses kecepatan informasi melalui internet. Kemajuan di bidang IT khususnya internet ini juga menyebabkan perubahan struktur lain lebih tepatnya pada struktur penyebaran dan penggunaan akses informasi oleh masyarakat. 


Sosial media yang merupakan bagian dari perkembangan internet merupakan suatu akses yang dapat berfungsi sebagai penghubung dan merupakan dasar unsur komunikasi. Kemunculan sosial media ini juga tak dipungkiri ikut mempengaruhi praktek jurnalisme.


Sosial media secara realita telah mengubah pola masyarakat dalam mengkonsumsi berita. Praktek jurnalisme pun perlu melakukan penyesuaian. Jurnalisme yang merupakan dunia berita yang sebelumnya berupa sebuah bingkai produk, kini mengalami perkembangan menjadi sebuah proses. Berita berupa produk antara lain media cetak seperti koran, majalah dll sedangkan sebagai proses, merupakan berita di era digital. Pada era digital, menurut Nezar Patria, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Redpel Viva News, di workshop IDBYTE 2011 di Atamerica, Pacific Place dalam berita terjadi proses kolaborasi antara media dan pembaca. Selain itu, berita akan diperkuat dengan adanya link dan network.


Teknologi informasi membuat  berita tak dikonsumsi hanya satu arah saja. Bahkan, informasi sebuah kejadian tak jarang muncul pertama kali di media sosial dan baru kemudian muncul sebagai berita di media arus utama. 


Di Indonesia, sosial media pertama kali muncul pada tahun 2008 dan hingga saat ini telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Perkembangan produk sosial media seperti facebook, twitter, youtube merupakan produk-produk andalan dalam pendistribusian berita di media sosial. Didukung oleh jumlah penduduk Indonesia yang sangat tinggi serta penggunaan akun jejaring sosial maka hal ini memungkinkan berita menyebar luas secara singkat. 


Nurul Hasfi, MA, staff pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Undip mengatakan bahwa maraknya kolaborasi antara mainstream media dengan citizen journalist baru bermunculan pada tahun 2010-an. Meskipun demikian, hal ini mengalami perkembangan yang sangat cepat karena didukung oleh fitur-fitur simple namun memberikan keterbukaan yang lebih luas dan cepat. Selain itu, sosial media juga dapat berperan sebagai controller bagi mainstream media. 


Fakta lain menunjukkan bahwa pada riset CNN “Pownar tahun 2010 atas 2.300 responden yang mengatakan links berita terbesar yang diakses pembaca adalah melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, YouTube, dan MySpace sebesar 43 persen. Disusul kemudian melalui email (30 persen), SMS (15 persen), dan instant messenger (12 persen).


Berita sebagai proses, memungkinkan bagi para media dan pembaca untuk saling berkolaborasi dalam praktek jurnalisme. Para pembaca dalam era sosial media tak hanya berperan sebagai pengkonsumsi berita tetapi juga dapat berperan sebagai distributor bagi pembaca lainnya. Inilah sisi lain di balik sosial media dalam praktek jurnalisme.  Penyesuaian-penyesuaian terus dilakukan demi keberlangsungan praktek jurnalisme.

29/11/2012.
Tomi Prayogi (19), Mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis Undip

0 komentar

Sejarah Pemikiran Umat Manusia (Rasionalisme dan Empirisme)

Sering kita mendengar kata rasionalisme dan empirisme tapi tidak sedikit pula diantara kita yang belum mengetahui kedua hal tersebut. Kita semua tahu bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya selalu berpikir, setiap hari, setiap waktu dan kapan saja selama ia masih bisa berpikir dengan menggunakan akal sehatnya.

Disini saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk bercerita lebih jauh mengenai sejarah pemikiran kita umat manusia yang menghasilkan sesuatu yang kita sebut dengan pengetahuan. Selanjutanya, untuk mengetahui lebih jauh maka penulis akan mengarahkan pemikiran tadi ke dalam konteks yang lebih khusus yaitu ke arah metode keilmuan (Metode Ilmiah).

Manusia adalah mahluk yang selalu berpikir, simbol dari ini semua adalah patung hasil seniman A Rodin yang dilambangkan dengan manusia yang sedang duduk dan termenung. Setiap pemikiran tadi mengahsilkan apa yang kita sebut dengan pengetahuan. Pengetahuan itulah yang sampai saat ini menjadi obor dan semen dalam menjalani kehidupan kita saat ini. Dalam perkembangannya, pengetahuan-pengetahuan tadi kemudian digabungkan menjadi satu dan dinamakan Ilmu Pengetahuan.

Metode keilmuan merupakan metode yang digunakan para peneliti untuk memperoleh kajian tentang suatu objek tertentu. Dalam prosesnya, terdapat dua hal yang menjadi jembatan dalam memperolehnya yaitu rasionalis dan empirime.

Rasionalisme
Rasionalsme adalah suatu paham yang menganggap bahwa semua ilmu pengetahuan itu diperoleh melalui proses berpikir secara rasional dan sistematis. Paham ini ingin mengatakan bahwa sebenarnya ilmu itu sudah tertanam dibenak umat manusia tinggal bagaimana caranya manusia itu dapat menggali dan memahami semua itu secara akal atau rasio. Secara ringkas, cara ini telah memberikan suatu kerangka berpikir secara koheran dan logis. Dengan metode berpikir deduksi, metode ini menghantarkan kita pada suatu pemahaman mengenai suatu objek tertentu yang kita kaji. Dalam proses penelitian misalnya, kita mengenal adanya hipotesis sebagai dugaan sementara yang menjadi pedoman kita selama proses penelitian. Disini rasionalis lah yang memnghasilakan hipotesis tersebut.

Hanya saja, dalam proses penggalian ilmu pengetahuan tersebut ternyata rasionalisme ini belum mampu memberikan hal yang konkret yang dapat kita lihat secara kasat mata. Semua yang disajikan adalah dalam bentuk yang abstrak, inilah yang menjadi titik kelemahan dalam rasionalisme. Bertolak belakang dengan paham empirisme yang menyakini bahwasanya ilmu pengetahuan yang kita peroleh adalah dalam bentuk pengalaman semua yang kita peroleh melalui panca indera.

Empirisme
Setelah sadar bahwa gagasan rasionalis tadi belum mampu menciptakan ilmu pengetahuan, maka timbulah gagasan untuk kembali pada metode/paham empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan kita peroleh melalui panca indera. Memang, cara ini telah berhasil memberikan bukti-bukti konkret mengenai apa yang kita alami dan kita rasakan. Oleh karena ilmu pengetahuan sangat menjunjung tinggi kebenaran, maka banyak golongan yang mengganggap metode ini yang paling tepat.

Tetapi, tidak sedikit pula golongan-golongan tertentu yang tidak setuju dengan empirisme. Pasalnya, dengan empirisme ini bisa saja terjadi salah penafsiran. Panca indera kita yang terbatas bisa saja membawa kita ke arah yang buruk. Contohnya saja ketika kita memasukkan sebatang pensil yang lurus ke dalam gelas yang berisi air. Maka pensil tadi akan tampak patah. Selain itu, jika hanya berupa sebuah pengalaman tanpa diiringi penafsiran yang sungguh-sungguh, maka apa yang kita lihat dan rasakan tadi hanyalah berupa sesuatu yang tak berguna dan tak berarti apa-apa.

Metode Keilmuwan
Bosan dengan debat yang berkepanjangan, maka para ilmuwan berupaya mencari jalan keluar bagi penelitian. Tidak hanya dapat dipikirkan secara rasio tetapi juga dabat dibuktikan secara real. Maka timbullah gagasan untuk menggabungkan kedua paham tadi menjadi satu yang kita kenal dengan metode keilmuwan sekarang. Disini, rasionalisme dan empirime dilebur menjadi satu. Rasionalisme menyumbangkan kerangka berpikir yang koheren dan logis sedang empiris berperan dalam pengujian Ha/Ho dalam proses penelitian. Dua elemen ini sampai sekarang masih berperan penting dalam proses penciptaan ilmu pengetahuan.

Hanya saja, metode keilmuwan ini juga memiliki kelemahan yang memang susah untuk di perbaiki. Bagaimanapun juga panca indera kita terbatas. Barangkali inilah yang seharusnya kita terima dari metode tersebut sebagai konsekuensi empirisme. Nampaknya, masih perlu kita mencari elemen epistemologis guna menggali ilmu pengetahuan secara lebih tepat dan bisa dipertanggung jawabkan. Seperti yang kita tahu, ilmu tidak bebas nilai, ilmu selalu terikat dengan nilai. Berbeda dengan “cara” memperoleh ilmu pengetahuan, hal ini tidak masalah. Pragmatisme dan skeptisme selalu beriringan. 

0 komentar

Ada rasa kecewa, ada rasa bahagia dan ada rasa sedih, semua bercampur aduk jadi satu.
Tanggal 23 Juni lalu, tepatnya pada hari sabtu bisa dibilang hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya saya berdiri di depan dewan juri bertindak sebagai finalis lomba menulis esai yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Semarang Jawa Tengah.

Akhirnya, kecintaan saya terhadap dunia tulis menulis jualah yang bisa membawa saya sejauh ini. Sebuah pengalaman yang cukup bermanfaat sekaligus memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai persaingan dalam merebut sebuah gelar.

Kecewa karena saya belum bisa tampil maksimal dalam mempresentasikan hasil tulisan yang saya buat, waktu yang sangat terbatas tidak cukup hingga akhirnya saya belum bisa memberikan yang terbaik dari apa yang saya punya. Di sisi  lain ada sebuah “kejengkelan” tersendiri ketika mendengarkan para dewan juri mengkritik tulisan hasil karya kita secara pribadi. Perlu saya sampaikan bahwa esai yang saya tulis kali ini adalah mengenai political writing yang berjudul “Menuju Indonesia Berbasis Sains dan teknologi”.

Ternyata baru saya sadari bahwa memang orang Indonesia ini terlalu memandang sebelah mata apa yang kita sebut dengan ilmu dan teknologi. Jiwa kita masih terlalu kaku, pikiran kita masih terkekang oleh batasan-batasan mengenai politik, maritim, pertanian, pengangguran dan lain-lain. Ada yang bertanya “mengapa harus sains dan teknologi ?” mengapa bukan pertanian karena kita adalah negara agraris ?. nampaknya perlu kita bercermin dari keberhasilan negara China Jepang dan India. China saja bisa menanam tanpa media tanah, mereka tahu bagaimana caranya agar sektor pertanian mereka bisa menghasilkan output secara efektif dan efisien. Disinilah ilmu pengetahuan dan teknologi berperan. Kita tidak akan maju jika selamanya kita hanya menggunakan “Cangkul”. Tetapi hal ini bukankah akan menambah angka pengangguran ? ini urusan bidang lain, selain sektor ilmu dan teknologi juga kita harus meningkatkan mutu pendidikan. 

Kita harus bisa mengubah mindset pekerja menjadi pemberi kerja. Bagaimana caranya agar rakyat Indonesia dapat hidup sejahtera dengan kreativitas mereka masing-masing seperti apa yang disebut dengan budaya meritokrasi yang mengatakan bahwa semua SDM yang dimiliki oleh negara adalah sumber daya-sumber daya potensial.

Ingin rasanya saya ulangi presentasi saat itu, mungkin ini akan menjadi langkah awal menuju suatu hal yang lebih baik. Salam sukses kepada teman-teman dari Unnes, UGM, Unibraw, dan Unmu yang sudah jauh-jauh datang ke Semarang. Selamat kepada para pemenang, semoga gagasan yang telah kita buat nanti bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup Mahasiswa ! kita bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik !

0 komentar

Catatan Hari Ini

Assalammualaikum Wr.Wb

Selamat siang sahabat blogger yang senantiasa menghiasi sisi lain dunia maya.

Betapa senangnya ketika kita melihat blog pribadi kita, membaca tulisan maupun hanya sekedar menjenguk lalu pergi. Sungguh menulis bagi saya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan, saya suka menulis apapun, saya menuliskan kejadian-kejadian yang saya alami, saya juga menuliskan apa yang saya pikirkan secara logis atau masuk akal. Dalam dunia tulis menulis, saya enggan membatasi imajinasi saya. Saya tidak ingin memberi batasan-batasan tentang apa yang harus saya tulis, khususnya dalam masalah posting blog ini. Mungkin inilah sebabnya mengapa blog pribadi saya yang sederhana ini hanya dihiasi oleh beberapa postingn saja, itupun masih belum sempurna. Disini saya juga mengucapkan permintaan maaf apabila dalam blog saya ini ada beberapa postingan yang sudah corrupt, hal ini bisa jadi dikarenakan umur postingan yang sudah terlalu lama. Kemungkinan yang lain adalah karena seringnnya pergantian template yang saya lakukan.
Lalu jika saya tidak membatasi imajinasi saya dalam menulis, mengapa saya sangat jarang menulis dan memposting hal-hal yang baru ? inilah yang akan saya coba jawab kali ini.

Menulis adalah suatu kegiatan dimana kita sedang berusaha membuat komunikasi secara tidak langsung dengan para pembaca yang kita jadikan sebagai objek. Dalam bahasa Indonesia, ada aturan tertentu yang harus kita jadikan sebagai panduan dalam menulis, ada penggunaan bahasa baku dan tidak baku, bahasa formal dan tidak formal dan lain-lain. Menulis juga membutuhkan struktur yang baik yang secara gramatikal bisa menjelaskan makna apa yang ingin kita sampaikan. Tetapi bukan itu masalahnya. Sebagai mahasiswa, saya juga memiliki sisi kehidupan lain yang harus saya jalani, berangkat pagi pulang sore belum lagi adanya tugas-tugas dari kampus yang harus saya selesaikan. Itu bukan alasan satu-satunya, bukan maksud saya untuk menyalahkan aktivitas saya secara pribadi, hal yang menghambat saya dalam menulis saya rasa lebih berat pada masalah “apa yang akan saya tulis?” “bagaimana saya menuliskannya?” dan lain-lain. Saya yakin ini adalah masalah yang juga dirasakan oleh penulis lainnya.

Sebenarnya banyak inspirasi yang saya dapatkan ketika saya sedang beraktivitas, berjalan dan lain-lain, semuanya sudah terkonsep dengan rapi. Tetapi yang saya alami, ketika saya ingin menunangkannya dalam tulisan saya seringkali merasa kebingungan, saya kehilangan draft kata-kata yang sudah saya persiapkan sebelumnya.

Selanjutnya, saya akan berusaha lebih baik lagi, belajar dan berlatih bagaiman cara menulis dengan baik dan benar. Sebagai seorang penulis, memiliki karya seperti buku dan novel saya rasa adalah suatu cita-cita tersendiri. Saya mulai mencari-cari karya apa yang sekiranya bisa saya ciptakan melalui tulisan saya pribadi. Saya rasa banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari menulis. Kita akan lebih bisa berpikir secara logis, menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif, dengan menulis juga akan melatih kecerdasan kita secara linguistik (kecerdasan berbahasa) dan lebih banyak lagi manfaat lainnya.

Menulis bukan hanya diam dan tidak berguna, menulis juga bisa menghasilkan uang dengan menjual karya-karya kita seperti cerpen, noval, puisi dan lain sebagainnya. Seperti pepatah “Nulla dies saine linea” tiada hari tanpa menulis. Tulislah apa yang anda kerjakan, dan kerjakanlah apa yang anda tulis. Jangan khawatir, tidak perlu keahlian khusus yang kita butukan untuk menulis. semua orang bisa melakukannya. Cobalah menuliskan sepatah atau dua kata, maka kita sudah bisa mengembangkannya dibantu dengan kemampuan imajinatif kita masing-masing.

0 komentar

Life and Student Responsibility


Kehidupan dan Tanggung Jawab Mahasiswa

    Kehidupan seorang mahasiswa sangat kompleks. Di kota-kota besar seperti Jogja, Semarang dan Jakarta, pola kehidupan mahasiswa bisa di bilang sangat memprihatinkan. Gejala – gejala prilaku seperti hedonisme mulai menyebar tidak memandang siapa dan dari mana mereka berasal. Di kota – kota besar seperti yang sudah di sebutkan di atas misalnya, mahasiswa kebanyakan berasal dari luar kota. Pada awalnya sebagian mahasiswa tersebut pamit kepada orang tua mereka untuk menuntut ilmu, mencari pengalaman, mencari keberuntungan di kota orang dan lain-lain. Harapan orang tua kepada mereka tentu sangat besar, orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses ? gelontoran uang demi uang dari hasil kerja keras banting tulang rela mereka berikan asalkan anaknya tumbuh menjadi orang besar. Tidak banyak mahasiswa yang menyadari akan hal ini, kebanyakan dari mereka terlihat seperti biasa-biasa saja, yang mereka tau mereka disana kuliah dan setiap bulannya mereka pasti mendapatkan suntikan dana dari orang tua mereka.

     Terlepas dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi keseharian seorang mahasiswa tidak di pungkiri memang sangat menyenangkan. Terlebih lagi bagi mereka yang berasal dari luar daerah kampus mereka. Yang dulunya tinggal bersama orang tua, sekarang sudah mulai hidup mandiri (bebas) mau apa, kemana, dan pulang jam berapa. Hal seperti inilah yang berbahaya. Yang di khawatirkan dari adanya kebebasan tersebut adalah timbulnya pola kehidupan yang negatif yang mengakibatkan kurangnya semangat belajar, timbulnya rasa malas dan tidak menutup kemungkinan apabila terus di biarkan orang-orang yang seperti ini akan terjerumus dalam kehidupan pergaulan bebas. Hal ini terbukti, kita tau bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang warganya mengidap virus HIV Aids terbesar di dunia.

     Kehidupan mahasiswa juga tidak terlepas dari yang namanya caffe, hampir setiap malam caffe-caffe penuh. Pemandangan yang tidak jarang kita temukan di lokasi sekitar kampus. Hal ini sudah lumrah bagi mereka sebagai ajang kumpul-kumpul, nongkrong dan lain-lain.
Di sadari atau tidak prilaku semacam ini sebenarnya cukup menyita waktu. Dari buku yang pernah di tulis oleh Bong Chandra yang berjudul “The Science of Luck” dalam bukunya beliau memaparkan betapa besarnya waktu yang terbuang percuma dari prilaku tersebut. Bong Chandra meruapakan seorang Enterprenuer yang sukses sekaligus seoarang motivator yang hebat. Sebagai developer beliau juga telah menulis beberapa buku yang laris terjual, salah satunya adalah buku “The Science of Luck” ini. Jika setiap malam kita nongkrong selama 2 jam, coba hitung berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk nongkrong tersebut selama setahun ? bayangkan betapa banyaknya waktu yang kita buang percuma. Ingat, sesuatu yang besar lahir dari permulaan yang kecil.

Jalan keluar dari pola-pola kehidupan yang negatif
Waktu sangatlah berharga, bahkan ada istilah yang menyebutkan “waktu adalah uang”. Oleh karena itu sudah selayaknya kita memanfaatkan waktu yang ada ini sebaik mungkin. Masih banyak hal-hal bermanfaat yang bisa di lakukan. Sebagai mahasiswa, kita dapat mempergunakan waktu yang kosong dengan belajar, berorganisasi, berolahraga, dan masih banyak hal positif yang lain. Tidak salah sebenarnya, mahasiswa juga membutuhkan waktu untuk refreshing. Kegiatan yang padat di kampus membutuhkan tindakan penyegaran yang berpengaruh ke otak. Semakin banyak kegiatan atau tugas yang kita kerjakan maka semakin banyak pula waktu yang kita butuhkan untuk refreshing, demikian pula sebaliknya semakin banyak kita refreshing, maka semakin banyak pula kegiatan yang harus kita kerjakan. Refreshing tidak harus jalan-jalan, kita bisa beristirahat dengan tidur, mendengarkan musik, berolahraga, dan lain-lain. Hidup tidak selalu kita isi dengan bersenang-senang kawan, kita butuh wawasan dan keterampilan untuk menunjang kepribadian dan masa depan kita masing-masing. Sebagai mahasiswa, kita mempunyai tanggung jawab yang besar baik untuk diri sendiri, orang tua dan kepada bangsa dan negara. Mahasiswa adalan generasi penerus/pelurus, mahasiswa juga sebagai agent of change yang di harapkan mampu membawa perubahan-perubahan bermanfaat bagi bangsa dan negara, kita tidak boleh egois dengan hanya mengedepankan kepentingan pribadi tetapi yang harus juga kita pikirkan adalah nasib bangsa kita sendiri. Coba lihat betapa banyaknya penduduk miskin yang ada di negara kita ?

     Untuk itu seorang mahasiswa di harapkan dapat memberikan kontribusi yang cukup bagi keberlangsungan negaranya, mampu melihat situasi-situasi yang terjadi kemudian mengambil langkah yang konkret. Civic Education (pendidikan kewarganegaraan) yang di berikan adalah bertujuan untuk membentuk kepribadian yang cinta tanah air, agar memaknai kehidupan ini serta memanusiakan manusia dalam artian agar manusia itu sendiri mampu memaknai hidupnya. Selain itu juga harus di barengi dengan ibadah. Kerja keras saja tidak cukup menjadikan kita sebagai pribadi yang sukses tanpa ridho dari Sang kuasa. Kuatkan iman dan kerjakanlah semua yang di perintahkannya dan jauhi segala apa yang di larangnya. Berusahalah menjadi yang terbaik, tanpa kita sadari, banyak kesempatan-kesempatan yang kita lewatkan begitu saja karena sesungguhnya kesempatan/keberuntungan itu lahir dari hal-hal yang sepele. Mulai sekarang bayangkan seberapa berharganya anda dan seberapa besarnya harapan orang tua anda. Anda di lahirkan sebagai pejuang ! Tulis impian-impian anda sekarang kemudian tuliskan langkah-langkah apa yang harus anda kerjakan untuk mencapai impian-impian tersebut. Di mulai dari sekarang ! good luck..

Sedikit kutipan dari catatan Bong Chandra :
"Kapasitas kesuksesan seseorang bergantung pada buku apa yang kita baca dan dengan siapa kita bergaul"

"Aku berharga karena hanya sedikit orang yang menganggapku berharga"

"Keberuntungan seringkali datang dari hal-hal yang kita anggap sepele"

"Expect for the best, plan for the worst and do whatever it takes". Berharap untuk hal yang terbaik, rencanakan untuk hal yang terburuk dan lakukan yang bisa di lakukan.

"Kita tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa merubah arah layar kita. Kita tidak bisa merubah dunia luar kita tetapi kita bisa merubah sikap kita".




0 komentar

Hidup dengan Suasana Baru


Saat ini tiba saatnya dimana aku harus hidup mandiri, bangku perkuliahan memaksaku untuk melakukan aktivitas di luar kebiasaanku sehari-harinya. Tanpa ada kehadiran sanak saudara, ayah, ibu serta adik-adikku yang lucu. Meskipun berat bagiku menjalaninya, tapi inilah..ini yang harus aku jalani selama beberapa tahun ke depan. Tahun-tahun dimana aku harus berjuang dan bekerja keras demi masa depan dan cita-citaku. Semua ini kulakukan juga demi membahagiakan kedua orang tuaku. Belajar dan belajar, mencoba hidup mandiri dan menjadi leader bagi kehidupan pribadiku.

Rabu, 10 Agustus 2011 tepatnya pada pukul 11.45 WIB aku berangkat menuju kota Semarang Jawa Tengah dari Bandara Lanud Iskandar Pangkalan Bun Kalimantan Tengah dengan bekal beberapa helai pakaian, laptop, beberapa cemilan yang di berikan oleh Ibu sebagai bekal makanan untuk berbuka puasa ketika sore harinya, ada beberapa buah apel, 3 bungkus amplang serta 3 potong kue/wadai bingka khas Kalimantan yang di amanatkan oleh ibuku untuk di berikan kepada ibu kosku di sana serta tidak lupa aku membawa perangkat sholat beserta al quran ku sendiri. Ya, aku masih ingat persis kejadian itu, ingat bagaimana suasana sesaat sebelum ke berangkatanku ke Semarang, begitu banyak nasehat-nasehat dari kedua orang tuaku, sesekali aku hanya menunduk mengisyaratkan bahwa aku mendengar nasehat dari mereka, rasa sedih dan haru pun muncul seketika. dengan segenap kemampuan serta mental yang aku persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, aku berusaha tegar, kuat, yakin serta percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Setibanya di bandara A.Yani Semarang, sekitar pukul 13.00 Wib aku sudah di jamu dengan suasana yang cukup asing bagiku, berada di antara keramaian para pendatang, sebagian dari mereka ada yang berangkat bersama keluarganya, sebagian lagi hanya berangkat sendiri sama halnya seperti aku, hanya saja ketika di bandara ia sudah di tunggu dan di jemput oleh keluarganya disana, sementara aku ??? aku hanya sendiri, total ada 3 tas yang harus aku bawa, memang cukup sulit di tambah lagi waktu itu sedang berpuasa. lalu, sesuai dengan petunjuk dari ayahku, segera aku menuju taxi service untuk memesan taksi bandara menuju tempat tinggal baruku. “banjarsari, tembalang pak” itu yang aku katakan kepada petugasnya, sontak ia bilang 65 ribu..waw mahal juga ternyata, memang lokasiku jauh dari bandara dan pusat kota. Untuk menuju ke lokasi saja butuh sekitar setengah jam, itu belum lagi jika dalm keadaan macet. Tapi waktu itu si sopir ambil jalan pintas, yaitu lewat jalur bebas hambatan atau yang kita kenal dengan jalur toll, terpaksa aku harus menanggung biaya masuk tollnya total ada 2 gerbang toll dengan biaya operasional masing-masing gerbang Rp.2000, jadi semuanya Rp.4000. yaaaah belum apa-apa pengeluaran sudah lumayan banyak.

Setengah jam berlalu, aku tiba di tempat kos ku (tirtasari 3) yang berada di belakang Kelurahan daerah setempat, sedikit aku jabarkan, di kos itu kurang lebih ada 11 kamar, 8 di bawah dan 3 di atas, kamarku berada di atas. Ini saatnya, saat di mana aku harus mengaplikasikan ilmu yang aku peroleh sewaktu aku duduk di bangku sekolah menengah atas, tepatnya pada jurusan Ilmu pengetahuan sosial ( IPS ). Di sadari atau tidak, banyak manfaat yang dapat di peroleh dari ilmu sosial ini. SKSD, ini yang coba aku praktekkan, berkenalan dengan para senior yang ngkost di tempat yang sama, cukup banyak memang, mereka kuliah di universitas yang sama denganku, tapi jurusannya saja yang berbeda. Ada yang kuliah pada jurusan peternakan (mas Sigit), kesehatan masyarakat (mas Eko), statistik (Iwan), dll mereka berasal dari beberapa daerah di pulau jawa. Dan alhamdulillah, sekarang aku sudah mulai akrab dengan mereka, mulai berbaur, ngobrol bersama, saur bareng dll selayaknya aku dengan teman-teman sewaktu di pangkalan Bun.
Sebagai orang baru tentu aku masih harus menjaga sikap, aku tidak mau berlebihan karena takut di sangka yang bukan-bukan (antisipasi). Rasa canggung itu masih ada, tapi untuk beberapa orang saja. Kamarku, pertama kali aku datang keadaannya belum layak huni, kotor, berdebu dan masih belum tertata. Tanpa menunggu lama, aku ambil air satu ember dengan kail pel, aku pel lantai kamarku hingga bersih putih mengkilat, keset lagi hehe
Ukurannya memang tidak besar, cukup untukku, satu kasur, satu meja, dan satu lemari. Dengan dekorasi yang cerah, kamarku memiliki background berwarna hijau muda tanpa aksesoris apapun. Aku berniat unruk menambahnya nanti setelah semuanya selesai, seperti salah satu kamar mahasiswa yang pernah aku lihat, dia mungkin salah satu dari mereka laskar pemimpi. Di dalam kamarnya ada peta dunia, lalu di salah satu negara yaitu Paris dengan simbol menara Eifellnya tertempel sebuah kertas kecil yang bertuliskan Universite de Sorbonne Paris Prancis, ya..ia memang bercita-cita kesana. Selain itu masih banyak lagi, agenda-agenda juga terpampang disana, aku hanya bisa melihat dan takjub melihatnya. Satu tulisan yang membuat aku haru dan bersemangat adalah tulisannya yang tertempel di bagian kiri peta “Percayalah aku akan mendapatkannya” “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” lihatlah betapa besarnya semangat seorang mahasiswa demi masa depan dan cita-citanya, hal yang demikian yang patut di contoh..Semangat !

Ketika malam tiba, suasana begitu hening waktu itu. Aku di kamarku sendiri tanpa ada hiburan apapun, sepi. Mungkin ini derita anak kos yang lain, kangen dengan keluarga di rumah, padahal baru saja satu hari meninggalkan rumah tapi entah mengapa rasnya sudah seperti satu minggu bahkan lebih. Suasana seperti inilah yang harus aku lalui beberapa tahun ke depan. Untung saja aku memiliki beberapa orang teman sedaerah yang kuliah dan ngkost di kota yang sama, ya..Tuhan Maha Mengetahui apa yang di butuhkan hambanya.


Senin 22 Agustus 2011, bertempat di stadion Undip Tembalang, seluruh mahasiswa baru berkumpul pagi hari untuk mengikuti Upacara penerimaan Mahasiswa baru Universitas Diponegoro tahun akademik 2011, 2012. Total ada sekitar 11.064 mahasiswa dari semua jurusan yang tergabung di upacara tersebut. Melelahkan sekali rasanya, karena setelah upacara selesai kmi di wajibkan hadir langsung di fakultas masing-masing maba untuk mengikuti program kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Acara berlangsung selama 2 hari, dari pagi hingga pukul 15.00.

Sekarang semuanya telah aku ikuti, satu persatu temanku mulai meninggalkan kota Semarang menuju kampungnya masing-masing karena sebentar lagi akan ada hari kemenangan (Idul Fitri). Kuliah di mulai pada tanggal 5 september 2011, sebelum itu aku harus berada kembali di Semarang, memulai kuliah pertamaku, kembali belajar dan menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah. Sukses !!

0 komentar